Inilah kumpulan puisi pertama karya Johannes Sugianto, seorang penulis yang dikenal dengan id blue4gie di berbagai komunitas puisi cyber. Karyanya juga tersebar di berbagai media cetak, dan turut dalam antologi puisi yang berkaitan dengan bencana gempa Yogyakarta.
Meski wajah baru dalam dunia sastra, namun kehadirannya mampu menarik perhatian penyair sekaliber Joko Pinurbo, hingga bersedia memberikan Kata Pengantar yang dikemas dalam sebuah 'surat'. Sastrawan Raudal Tanjung Banua dan Joni Ariadinata bertindak sebagai editor buku ini. Bahkan saat launching buku ini, Joko Pinurbo dan TS Pinang datang untuk berbicara serta membaca salah satu puisi di buku ini.
***
Sajak-sajakmu, dari hulu hingga hilir, mengalir tertib dan tenang, bahkan kadang aku melihat sajak-sajakmu seperti pertapa yang tahan godaan. Sajak-sajakmu memang bersahaja, santun, tidak suka membuat orang kaget atau merinding. Barangkali itulah puitika yang telah kaupilih sebagai gaya pribadimu. Tak ada keliaran. Tak ada kesan mbeling dan urakan. Tak ada hasrat untuk main-main. Sajak-sajakmu seperti si bijak yang sedang membawakan renungan atau piwulang, bukan si nakal yang suka bikin sensasi. Sajak-sajakmu tidak bernafsu untuk mempertunjukkan permainan sirkus dan silat kata. Bagiku ini menarik: dalam sajak-sajakmu aku melihat kontradiksi antara gejolak jiwa dan kesantunan kata-kata.
Joko Pinurbo, penyair, dalam kata pengantar yang bertajuk "Surat Malam untuk Yo".
***
Menggauli sajak-sajak Johannes Sugianto seperti menengadah melihat layang-layang yang sedang 'tegak tinggi tali'. Kadang tinggi, tapi tampak dekat, kadang dekat tapi tampak tinggi. Ranah jelajahnya jauh, titik galiannya dalam, gairah puitiknya menggebu seperti riuh angin halimbubu. (Damhuri Muhammad, cerpenis)
Lirik-lirik Joe dalam buku ini adalah catatan perjalanan seorang lelaki, dimana dia meletakkan letihnya sembari berbincang dengan sepi. Sajak-sajaknya adalah fermentasi air mata, nanah luka hati, juga ratapan. Seperti anggur, sajak-sajaknya secara lembut akan membuat dada kita menghangat dalam setiap sesapan (TS Pinang, penyair)