Into Thin Air: Kisah Tragis Pendakian Everest by
Jon Krakauer,
Qanita (Mizan Group)
, 584 halaman
Harga:
Rp 0 :: Rp 0 ::
Hemat:
Rp 0 (15,00%)
Sagarmatha atau Dewi Langit, itulah julukan Everest, puncak tertinggi di dunia. Para pendaki dan ahli geologi menganggapnya tidak indah, terlalu besar, lebar dan kasar. Namun keanggunan arsitektural yang tidak dimiliki Everest itu diimbangi oleh massanya yang besar dan menakjubkan. Belum lagi kisah-kisah mengguncang tentang berbagai upaya penaklukannya menambah reputasi kebesaran gunung tersebut. Ditemukan pada 1852, Everest baru dapat ditaklukkan 101 tahun kemudian setelah "serangan" yang berganti-ganti dilakukan 15 tim ekspedisi serta hilangnya 24 nyawa, jumlah korban yang terus meningkat seiring sejarah pendakiannya yang berlanjut hingga kini.
Jon Krakauer adalah klien salah satu tim ekspedisi komersial di antara sekitar 16 tim yang mendaki Everest pada 1996. Pada hari pendakian 10 Mei itu, tak seorang pun yang pernah membayangkan bahwa bencana yang menakutkan sedang mengintai, dan kemudian merenggut nyawa delapan rekan mereka. Tidak ada yang menduga, bahwa di penghujung hari, setiap detik akan menjadi sangat berarti.
Krakauer menulis Into Thin Air dengan harapan akan dapat "mengenyahkan Everest dari kehidupanku." Kesedihan mendalam karena peristiwa tragis yang terjadi di haribaan Dewi Langit itu demikian nyata tecermin dalam kisah yang menakjubkan sekaligus mengguncang hati ini. Bagaimanapun, bahkan setelah usai menulis buku ini, Krakauer harus pasrah mengakui bahwa tragedi Everest itu akan tetap menghantui hidupnya. Tragedi yang bisa pula menghantui Anda, pembaca, setelah menuntaskan halaman terakhirnya.