Tel. +6221-4212057 dan +6221-4229857
home | cara pesan
  cari buku      
Bookmark and Share      mailing list       

 
1 Kamus Rusia-Indonesia #...
  Victor P
2 50 Variasi Menu...
  Linda Carolina B.
3 Lebanon Pra -dan...
  Mayor Ari Yulianto
4 25 Resep Kue...
  Dapur Anissa
5 26 Resep Cupcake...
  Dapur Kirana
6 26 Resep Cupcake...
  Dapur Kirana
7 Cara Gampang Mengelola...
  Indrasto Budisantoso
8 Warisan Sang Raja...
  Jim Stovall
9 Rahasia Sukses Berkarier...
  Aretha Aprilia, ST,...
10 Kumpulan Budak Setan
  Eka Kurniawan




   
• agama islam
• akuntansi / ekonomi
• arsitek / properti
• bahasa / kamus
• biografi / memoar
• bisnis / manajemen
• buku anak / balita
• busana / kecantikan
• fiksi dewasa populer
• fiksi remaja populer
• hobby / ketrampilan
• hukum / regulasi
• kajian budaya / filsafat
• kajian kritis islami
• kebangsaan Indonesia
• kesehatan / olah raga
• keuangan pribadi
• komik / grafik novel
• komputer / internet
• komunikasi
• parenting
• peta/atlas
• politik
• psikologi
• reportase
• resep masakan
• sastra indonesia
• sastra mancanegara
• sejarah
• spiritualitas populer
• wirausaha


 


  Untitled Document  


K02TONP01


Rambu-rambu Yang Diabaikan
Analisis Ekonomi

by  A Tony Prasetiantono, Penerbit Buku Kompas
Harga:  Rp 59.000 :: Rp 50.150 ::
Hemat:  Rp 8.850 (15,00%)

A Tony Prasetiantono adalah ekonom spesialis ekonomi makro. Artikel Tony memperlihatkan bahaya ekonomi lewat posisi rupiah yang selalu bergejolak dari tahun ke tahun. Hampir setiap tahun Tony menulis soal gejolak rupiah dan penyebab di baliknya. Isu kurs rupiah merupakan yang terbanyak dari berbagai artikel Tony yang dimuat di Kompas.



Krisis moneter, ekonomi, politik dan sosial di Indonesia yang memuncak pada akhir dekade 1990-an dimulai dari tidak sehatnya struktur perekonomian yang sudah tercipta pada dekade sebelumnya. Krisis ekonomi – yang kemudian berkembang menjadi krisis multidimensi dekade 1990-an – terjadi akibat akumulasi penumpukan utang luar negeri. Hal itu sudah diperingatkan jauh-jauh hari sebelum krisis moneter melanda Asia dan Indonesia pada dekade 1990-an. Misalnya, diingatkan agar Indonesia mulai mengurangi beban utang dan mengisi kebutuhan cadangan devisa lewat arus masuk investasi asing langsung ketimbang akumulasi utang. Posisi neraca transaksi berjalan membahayakan karena kewajiban luar negeri lebih besar ketimbang potensi penerimaan devisa. Utang luar negeri, sebelum krisis adalah sebuah momok yang menakutkan.



Kurs rupiah yang terus merosot terkadang memaksa pemerintah melakukan devaluasi (tindakan yang disengaja untuk memerosotkan kurs mata uang karena keadaan yang memaksa). Jika tidak ada devaluasi, rupiah mengalami depresiasi (kemerosotan kurs karena kekuatan pasar). Itu adalah refleksi dari kerapuhan sebuah mata uang. Gejolak sebuah mata uang merupakan refleksi dari ketidaksehatan perekonomian, terutama dalam kaitannya dengan ketidakmampuan memenuhi kewajiban luar negeri seperti membayar utang luar negeri dan bahkan terus terjebak dengan penumpukan utang-utang luar negeri dari hasil pinjaman.



Namun, hal itu dibiarkan sehingga berkembang bak bola salju yang kemudian balik menghantam perekonomian Indonesia. Akhirnya meledaklah perekonomian Indonesia lewat gejolak kurs hebat pada tahun 1997, yang kemudian membawa kebangkrutan massal bank-bank, perusahaan, dan mungkin kebangkrutan negara. Hal itu membuat Indonesia harus minta tolong kepada Dana Moneter Internasional (IMF). IMF diundang masuk karena Indonesia juga semakin kehilangan cadangan internasional karena larinya investor asing berjangka pendek.



Lalu IMF pun masuk dan mendikte Indonesia untuk melakukan program-program reformasi ekonomi. Setelah IMF masuk, sepertinya keadaan akan tertolong dan perekonomian pulih. Tetapi, setelah sekian lama IMF berada di Indonesia, pemulihan cepat seperti di Thailand dan Korea Selatan tak kunjung datang.



Bahkan hiruk-pikuk politik dan ketidakstabilan sosial terus memperburuk keadaan. Ironisnya, negara ini pun semakin terjebak pada krisis ekstra dengan terjadinya serangkaian peledakan bom. Tony pun meluncurkan tulisan berjudul, “The Lost Paradise” menyusul ledakan bom di Bali tahun 2002 lalu.
IMF kemudian dikritik telah memberikan resep perekonomian yang salah bagi Indonesia. IMF pun mengaku salah, dan berjanji memperbaiki resep-resep kebijakan. Ekonom peraih Hadiah Nobel Ekonomi 2001, Joseph E Stiglitz, memperkuat dugaan soal policy error IMF di negara yang dia tangani.



Akan tetapi, banyak contoh yang memperlihatkan bahwa tindakan blunder dan ketidakjeraan untuk tidak bermain-main dengan hukum, disiplin, termasuk menjadi faktor yang membuat Indonesia semakin kacau. Kalau pun IMF bersalah, porsi kesalahan domestik tidak kalah buruknya. Ada contoh ekstrem soal itu. Juga banyak catatan, bahwa pada masa krisis sekalipun, Indonesia seperti bermain-main dengan peringatan akan bahaya yang menghadang.


 
Penyiapan Kuitansi
Keranjang Anda kosong
 
Hubungi kami ...
Nama
Email

best seller / top ten of this week
1 Rambu-rambu Yang Diabaikan
Analisis Ekonomi

A Tony Prasetiantono
Footnote
 
© iniBuku.com (2002)
Webmaster : webmaster@inibuku.com
Search Engine Optimization