Tel. +6221-4212057 dan +6221-4229857
Follow inibuku on Twitter   home | cara pesan
  cari buku      
Bookmark and Share      mailing list       

 
1 41 Warisan Kebesaran...
  M.Hanif Dhakiri
2 Psychologi of Fashion
  Jeneman
3 Gadis Pemberontak -...
  NafiSahaji
4 Malaikat Dalam Qur`an
  M. Quraish Shihab
5 Setan Dalam Qur`an
  M. Quraish Shihab
6 Jin Dalam Qur`an
  M. Quraish Shihab
7 Kapal Selam
  Commander Jeff Tall...
8 Berdamai dengan Asisten...
  Aprilina Prastari
9 Jejak Investasi Orang...
  Joko Salim, S.kom,se,...
10 Meningkatkan Prestasi Akademik...
  Jubilee Enterprise




Penerbit Buku Kompas
Dengan Diskon 25%
Hingga 30 Juni 2010

   
• agama islam
• akuntansi / ekonomi
• arsitek / properti
• bahasa / kamus
• biografi / memoar
• bisnis/manajemen
• buku anak / balita
• busana / kecantikan
• busana/kecantikan
• fiksi dewasa populer
• fiksi remaja populer
• hobby / ketrampilan
• hukum / regulasi
• kajian budaya / filsafat
• kajian kritis islami
• kebangsaan Indonesia
• kesehatan / olah raga
• keuangan pribadi
• komik / grafik novel
• komputer / internet
• komunikasi
• parenting
• personality
• peta/atlas
• politik
• psikologi
• reportase
• resep masakan
• sastra indonesia
• sastra mancanegara
• sejarah
• spiritualitas populer
• wirausaha


 


  Untitled Document  


A09MBEN01


Journey to Hell - Memoar Duka Mantan Penghuni Guantanamo
by  Mourad Benchellali, Alvabet, 312 halaman
Harga:  Rp 39.000 :: Rp 33.150 ::
Hemat:  Rp 5.850 (15,00%)

“Ketika membaca kisah ini, masyarakat bisa memutuskan penilaian mereka atas penjara Guantanamo—bagaimana sistemnya bekerja, realitas proteksi yang diberikan kepada Amerika, dan cara-cara mengorek kebenaran dari para tawanan....”
— Mourad Benchellali

Ketika peristiwa 11/9 meletus, Mourad berada beberapa mil dari perbatasan Afghanistan. Bersamaan dengan bom-bom yang digelontorkan tentara Amerika serta pergerakan tentara Aliansi Utara (Northern Alliance) menyerang Taliban, ia turut melarikan diri menuju kawasan pegunungan Hindu Kush. “Aku tak pernah melakukan kejahatan,” ujarnya meyakinkan diri. “Aku tak pernah membawa senjata dan tak memerangi siapa pun.”

Setelah berhasil keluar dari Afghanistan, di sebuah masjid di Pakistan, Mourad ditangkap angkatan bersenjata Pakistan, kemudian diserahkan kepada tentara Amerika. Mulanya ditawan di Kandahar, lalu dijebloskan ke penjara Guantanamo tanpa proses pengadilan. Tak pelak, ia pun dihadapkan pada interogasi tiada henti, juga siksaan fisik dan tekanan batin yang tak terperi: diikat dengan rantai besi, ditelanjangi, dilecehkan, dihina, diludahi, dibentak, atau dipukuli para tentara semaunya.

Di penjara Guantanamo, para interogator seperti hidup dalam atmosfer frustrasi: telah tertanam di benak mereka bahwa semua informasi yang keluar dari mulut tawanan derajat kebenarannya berada di titik nol persen. Bisa dibayangkan betapa mengerikan jika mereka berusaha melampiaskan rasa frustrasi itu kepada tawanan. Mereka memang tak punya banyak cara untuk menenangkan diri. Dan, tawananlah satu-satunya hiburan paling menyenangkan.

***

Mourad Benchellali tinggal di Venissieux, kawasan tepi kota Lyon, Prancis. Pemuda keturunan Aljazair ini bukanlah seorang Islamis fanatik. Saat terjadi peristiwa 11/9—bersamaan dengan kunjungan liburannya ke Afghanistan—ia ditangkap dan dituduh terlibat terorisme Al-Qaeda. Penjara Guantanamo pun jadi tempat mukimnya selama 46 bulan. Uniknya, di Guantanamo-lah Mourad pertama kali serius mengaji al-Quran. Sebelum itu, juga saat ini, tak pernah terpikir di benaknya sikap anti-Amerika.


 
Penyiapan Kuitansi
Keranjang Anda kosong
 
Hubungi kami ...
Nama
Email

best seller / top ten of this week
1 Journey to Hell - Memoar Duka Mantan Penghuni Guantanamo
Mourad Benchellali
Footnote
 
© iniBuku.com (2002)
Webmaster : webmaster@inibuku.com
Search Engine Optimization