“Pembelaan” itulah kata kunci dalam kumpulan esai-esai tulisan Abdurrahman Wahid kali ini. Bisa dikatakan, esai-esai ini berangkat dari perspektif korban, dalam hampir semua kasus yang dibahas. Wahid tidak pandang bulu, tidak membedakan agama, keyakinan, etnis, warna kulit, posisi sosial apapun untuk melakukannya. Bahkan, Wahid tidak ragu untuk mengorbankan image sendiri-sesuatu yang seringkali menjadi barang mahal bagi mereka yang merasa sebagai politisi terkemuka, untuk membela korban yang perlu dibela.
Maka ornag sering terkecoh bahwa seolah Wahid sedang mencari muka ketika harus mengorbankan dirinya sendiri. Munculnya tuduhan sebagai ketua ketoprak, klenik, neo-PKl, dibaptis masuk Kristen, kafir, murtad, agen zionis Yahudi dan sebagainya, tidak menjadi beban bagi dirinya ketika harus membela korban.
Dalam esai-esainya ini, Wahid melakukan pembelaan mulai dari Inul Dartista yang dikeroyok oleh para seniman terkemuka di Jakarta dengan alasan agama, Ulil Abshar Abdallah aktivis Islam Liberal yang divonis hukuman mati juga dengan alasan agama Islam oleh para ulama terkemuka, sampai ancaman untuk menutup pesantren Al-Mukmin di Nguki, Solo oleh polisi, meskipun ia tetap mengkritik pandangan Abu Bakar Ba’asyir dan pengikutnya.