Sebenarnya persoalan yang menjerat pendidikan tidak hanya ongkosnya yang kian membumbung, melainkan juga kualitasnya yang sungguh memprihatinkan. Tidak hanya kurikulum yang acap berganti, melainkan metode pengajaran yang semata mengandalkan pada penghapalan atau sistem bank. Alih-alih 'membebaskan', metode pendidikan macam itu malah membodohi murid, menumpulkan daya kritis dan mengerdilkan daya kreatif.
Menjawab persoalan-persoalan itu, sebuah metode pendidikan alternatif yang memperhatikan konsep 'aksesibilitas' dalam proses belajar-mengajar ditawarkan. Dalam konsep itu, murid tidak hanya duduk tenang di balik meja dan dicekoki dengan segala macam pelajaran yang membuat mereka menjadi—dalam istilah Romo Mangun—beo-beo hapalan, tapi langsung dihadapkan pada persoalan-persoalan yang ada di lingkungan sekitarnya.
Buku ini merupakan catatan-catatan kritis anak-anak, hasil dari penerapan metode belajar-mengajar yang mengedepankan konsep aksesibilitas tersebut. Persoalan di lingkungan sekitar mereka yang diangkat adalah Observatorium Bosscha yang saat ini nasibnya sama dengan para PKL, tengah menghadapi ancaman tergusur oleh pembangunan yang kapitalistik.
"Cara penanggulangan agar Bosscha tetap ada adalah dengan cara: tidak membangun gedung-gedung besar misalnya hotel, tidak membangun pabrik-pabrik, dan agar melarang kendaraan-kendaraan besar melintas di area Observatorium Bosscha."
—Rahma (SD Pelesiran II)
"... Tidak mengherankan apabila setingkat itu, anak-anak itu bisa melihat kerusakan lingkungan yang selama ini ditutup-tutupi oleh Negara."
—Rahmat Jabaril (Komunitas Taboo)