Bagai pelita penerang dalam gulita, guru membawa ilmu kepada murid-muridnya. Namun, dalam kondisi seperti apakah sang pelita itu berkarya? Buku Guru dalam Tinta Emas memberikan gambaran perihal “ruang-ruang” tempat pengabdian itu berlangsung.
Buku ini patut dibaca karena kita bisa membaca dan menulis, guru yang mengajarkan. Kita dapat menduduki jabatan tertentu di sebuah perusahaan/instansi, guru jugalah yang mengantarkannya. Kita bisa berkreasi dan atau berwirausaha, ya tetap gurulah yang mempunyai andil besar. Tanpa guru, kita tidak akan seperti sekarang ini. Maka, pantaslah jika kita memberikan penghargaan tinggi kepada beliau.
Penghargaan tersebut dapat kita ungkapkan antara lain dengan menerapkan, mengembangkan dan mewariskan ajarannya lewat keteladanan hidup sehari-hari. Agar kita lebih memiliki ‘greget’ untuk mewujudkannya, maka seyogianya kita berusaha mengenal siapa dan bagaimana guru itu. Buku ini kami kemas untuk masuk ke dalam permenungan ke sana.
Simak kisah Silas Wartandu di pedalaman Manokwari yang sudah tidak percaya pada janji-janji pemerintah. “Kalau tunggu pemerintah, kapan anak-anak ini bisa mendapatkan pendidikan,” katanya.
Atau duet Rosi dan Rian yang berusaha mendidik anak-anak kecil penghuni kolong-kolong jembatan tol di Jakarta Barat dan Jakarta Utara. Juga sentuhan Husaini di Pasar Lima, Banjarmasin kepada anak jalanan dan gelandangan.
Gagasan demi gagasan juga dilahirkan oleh guru. Mulai kisah satwa harapan dari Prof. DTH Sihombing sampai Drs Suyono sang guru teladan, serta belajar matematika versi Siradjudin.
Pemerhati dan pengambil keputusan di bidang pendidikan, serta siapa saja yang peduli akan masa depan bangsa, perlu membaca buku ini.