Tel. +6221-4212057
Follow inibuku on Twitter   home | cara pesan
  cari buku      
Bookmark and Share      mailing list       

 
1 Boyfriend vs Sistar
  Nina Lee
2 Waikiki Restaurant in...
  Okai Haruko
3 Masakan Rumah Wina...
  Wina Bisset
4 GTO 22
  Toru Fujisawa
5 101 Rahasia Sukses...
  Capung Java Jive
6 The Pitcher 74
  Kei Sadayasu
7 House of The...
  Taamo
8 Saint Seiya Lost...
  Masami Kurumada,Shiori Teshirogi
9 Tetsugaku Letra 02
  Mizu Sahara
10 Gourmet! 13
  Mitsuru Osaki


 

   


 



 





Sukarno di Panggung Sejarah
by , Komunitas Bambu, 1080 halaman
Harga:  Rp 250.000 :: Rp 212.500 ::
Hemat:  Rp 37.500 (15,00%)
Kategori: 
Ketersediaan:  stok tersedia di penerbit

Bagaimana jika lebih 30 sarjana sohor dunia yang disebut Indonesianis duduk bersama membahas Sukarno. Hasilnya adalah buku ini. Tapi buku ini tak sekadar mengumpulkan, niat sejatinya untuk memetakan evolusi pemikiran tentang Sukarno di antara Indonesianis, seraya melihat saling pengaruh di antara mereka sebelum akhirnya mendeteksi sejauh mana analisis mereka mempengaruhi kita, masyarakat Indonesia melihat Sukarno dan akhirnya melihat dan mendefinisikan Indonesia.

SUKARNO DI PANGGUNG SEJARAH

Penulis:
Herbert Feith, Bernhard Dahm, Ruth T. McVey, Peter Polomka, Justus Maria van der Kroef, John D. Legge, Peter Christian Hauswedell, Roger K. Paget, Anne-Marie Hussein-Jouffroy, Howard M. Federspiel, Colin Brown, Elisabet Lind, Karen Brooks, W.F. Wertheim, R.C. Kwantes, B.B. Hering, H.W. Brands, Susan Blackburn, Greg Poulgrain, John Penbrook, Angus McIntyre, Pierre Labrousse, George McT. Kahin, Ulf Sundhaussen, Clifford Geertz, Rex Mortimer, Benedict Anderson, John Ingleson, Masashi Nishihara, Aiko Kurosawa, Kapitsa MS, dan Maletin NP

Editor:
JJ Rizal & Peter Kasenda

Sukarno adalah salahsatu pemimpin besar abad ke-20 yang sangat berpengaruh dan kontroversial. Sejumlah orang – terutama para sarjana pengkaji Indonesia yang kemudian sohor disebut Indonesianis – dari berbagai belahan dunia dengan lembaga-lembaga riset dimana mereka berkutat mengerahkan perhatian untuk menganalisa presiden pertama RI itu. Bukan saja lantaran pribadinya yang kompleks, jalan perjuangan dan pemikirannya yang memukau, tetapi juga oleh kesadaran betapa kuat serta dalam pengaruh Sukarno terhadap Indonesia.

Sukarno tampak dominan warnanya dalam masa sebelum Indonesia merdeka. Ia menjadi simpul utama pergerakan nasional. Sukarno adalah sang proklamator, ia yang menyatakan kemerdekaan Indonesia dan kemudian menjadi presiden pertama. Bung Karno kemudian memimpin serta membawa bangsa-negaranya melalui masa-masa keras penuh konflik dan muslihat keji politik Perang Dingin dengan yang disebut Ruth McVey sebagai “Manajemen Konflik Ideologi” dan Elisabet Lind sebagai “Retorika Sukarno”, lantas dengan kata revolusi yang oleh Anne-Marie Hussein-Jouffroy dinyatakan sebagai “Pembelajaran Kosakata Politik Indonesia”. Perang Dingin itu pula yang mengakhiri semua eksperimen politik kepemimpinan Sukarno melalui suatu kudeta berdarah yang gelap dan kontroversial.

Namun, setelah kejatuhannya, Sukarno tetap meninggalkan pengaruh yang tak kalah kuatnya dalam masa-masa Orde baru yang pasang wajah benci terhadapnya, seraya menerapkan suatu politik pembunuhan karakter yang hebat terhadapnya. Itulah saat – pinjam istilah Karen Brook – “Bung Karno: Yang Tetap Menghantui pada Rezim Orde Baru”. Di balik analisa Justus Maria van der Kroef tentang “Akhir Era Sukarno” atau Peter Polomka ihwal “Kejatuhan Sukarno” sesungguhnya era Sukarno tidak pernah berakhir di Indonesia, Sukarno tidak pernah jatuh di Indonesia. Clifford Geertz sang antropolog tersohor itu pun menyatakan itulah “Dilema Sukarno”, lebih jauh lagi dilema Indonesia sebab Sukarno adalah sinonim Indonesia, seperti Indonesia adalah Sukarno. Apakah ini reduksionisme, mungkin ya tetapi kenyataan menunjukkan sejumlah bukti sebagai pendukungnya. Bahkan tokoh Indonesianis yang sangat berpengaruh Ben Anderson menyatakan bahwa kalau Indonesia kini jatuh, terpuruk dalam nasib buruk dan masa depannya seperti suatu lorong gelap saja, maka itu karena ada krisis nasionalisme, sesuatu yang bersumber dari “Pemfosilan Pemikiran Sukarno”.

Ada lebih 30 Indonesianis yang pernah menganalisa Sukarno di berbagai jurnal internasional dan buku-buku dikumpulkan di dalam buku ini. Dari analisis mereka yang paling awal di tahun 1960-an sampai era paling mutakhir di zaman reformasi. Mereka mewakili pusat-pusat studi Indonesia di seluruh dunia, seperti Amerika, Prancis, Belanda, Jerman, Skandinavia, Australia dan Rusia. Tetapi buku ini bukan sekadar bersemangat mengumpulkan tetapi niat sejatinya adalah untuk memetakan evolusi pemikiran tentang Sukarno di antara para Indonesianis di dunia, seraya melihat pengaruh mepepngaruhi di antara mereka sebelum akhirnya mendeteksi sejauh mana analisis mereka mempengaruhi kita, masyarakat Indonesia melihat Sukarno dan akhirnya melihat dan mendefinisikan Indonesia.




          Pin It        


K06CGEE01

 
Keranjang Anda kosong
 
Hubungi kami ...
Nama
Email

1 Sukarno di Panggung Sejarah
Clifford Geertz, Ben Anderson, W.F. Wertheim, Pierre Labrousse, dll

 
© iniBuku.com (2002)
Webmaster : webmaster@inibuku.com
Search Engine Optimization