Konspirasi di Balik Tenggelamnya Matjan Tutul by
Julius Pour, Penerbit Buku Kompas, ISBN-9789797095673
Harga:
Rp 58.000 :: Rp 49.300 ::
Hemat:
Rp 8.700 (15,00%)
Kategori:
Ketersediaan:
stok tersedia di gudang inibuku
Pertempuran di Laut Arafuru, 15 Januari 1962, berakhir mengenaskan. KRI Matjan Tutul, KRI Matjan Kumbang, dan KRI Harimau terpaksa menghadapi tiga kapal perang Belanda yang jauh lebih besar dan perkasa: Eversten, Kortenaer, dan Utrecht.
KRI Matjan Tutul yang ditumpangi Komodor Jos Soedarso dibombardir dan ditenggelamkan armada laut Belanda yang didukung pesawat terbang Neptune dan Firefly. Komodor Jos Soedarso gugur secara gentleman and brave...
Ketiga kapal perang RI dan awaknya itu sebetulnya tak disiapkan untuk menghadapi kemungkinan pertempuran. Operasi infiltrasi ke Irian Barat oleh Angkatan Laut RI adalah sebuah misi rahasia. Karenanya, aksi Satuan Tugas Chusus atau STC-9 di bawah komando Kolonel (Laut) Sudomo itu sengaja dilakukan diam-diam, di tengah malam buta.
Namun, kenapa armada kapal perang Belanda tiba-tiba muncul mencegat, membuat pertempuran laut di tengah malam itu tak bisa dihindari? Penjelasan paling logis, informasi rencana operasi rahasia itu bocor, sehingga AL Belanda bisa mengendus rencana infiltrasi ini. Mungkin ada benarnya sinyalemen yang disampaikan Komandan Kontingen Indonesia Kolonel (Inf.) Soedarto, “… ada pengkhianatan tingkat tinggi.”
Buku ini mengungkap berbagai misteri di sekitar pertempuran Laut Arafuru, termasuk soal tokoh yang disebut-sebut sebagai pengkhianat. Apa alasan Komodor Jos Soedarso ikut serta dalam operasi taktis itu? Apa peran Kolonel (Udara) Omar Dani? Apa pula peran Deputi Operasi KSAU dan Asisten Operasi KSAD Kolonel Moersjid dalam STC-9?
Julius Pour, lengkapnya Julis Poerwanto, mengawali karier menulis dari bawah. Tahun 1974 ia menjadi koresponden lepas Harian Kompas untuk Yogyakarta, saat ia masih kuliah tahunt erakhir di Fakultas Sosial Politik, Universitas Gadjah Mada. Ia mulai serius menjadi wartawan saat diangkat koresponden tetap serta koordinator koresponden untuk Yogyakarta dan Jawa Tengah. Pindah ke Jakarta ia kemudian diangkat menjadi Redaktur Daerah Harian Kompas. Setelaj itu, dia pernah menjadi Koordinator Koresponden Luar Negeri, Wakil Redaktur Pelaksana Harian Kompas lantas Direktur Humas Kelompok Kompas Gramedia sampai kemudian, hingga Asisten Presiden Direktur Kelompok Kompas Gramedia. Banyak kisah sejarah dan politik yang ia rangkum dan tulis selain memang ia jago membuat karikatur politk.