Kapitan Pedang Panjang by
Fira Basuki, Grasindo, ISBN-1234567890
Harga:
Rp 49.500 :: Rp 42.075 ::
Hemat:
Rp 7.425 (15,00%)
Kategori:
Ketersediaan:
stok buku akan kami konfirmasikan
Menurut Fira, ide-ide novelnya suka muncul dari mimpi, seperti saat dirinya bermimpi terbang dan duduk di atas atap. “Jadilah novel itu berjudul Atap,” katanya. Editor majalah Cosmopolitan ini mengaku sudah terbiasa mengatur suasana hatinya untuk menulis. Karena itu, karya-karyanya hampir terus muncul beberapa tahun sekali.
-- Tempo Interaktif, 30 Oktober 2009
Kisah seorang wanita Jawa modern, Laras, yang hidup di kota besar. Ia harus mampu membangun hidupnya dan anaknya setelah perceraian dengan sang suami. Sejak perceraian itu ia dihadapkan dengan masalah finansial dan cinta baru yang mulai bersemi. Di sela-sela waktunya, ia sering membaca buku harian warisan kakeknya, Eyang Djagat. Ternyata hidup kakeknya itu sangat seru dan dinamis. Kakeknya adalah seorang putra mahkota yang rela meninggalkan keraton dan segala kemewahannya untuk menegakkan prinsipnya: Tidak mau tunduk pada Belanda, penjajah. Petualangan Eyang Djagat menjadi pegangan tersendiri bagi Laras yang sedang menata hidupnya.
... Beberapa hari ini pedang panjang Eyang Djagad bersinar. Membuat aku sedikit ketakutan. Bahkan, aku melarang Rose untuk masuk kekamarku.
Aku mencoba menyimpan pedang itu kedalam lemari, namun sinarnya justru kian kuat dan berpendar, seakan-akan lemariku menjadi sebuah lemari ajaib yang bersinar. Jadi, kembali aku keluarkan dan pedang itu kembali bersandar di pojok kanan di depan tempat tidurku. Aku mulai ketakutan, memikirkan kemungkinan hantu Rendra Kembali.
Syut! Syut! Syut!
Aku melihat orang yang menyerangku pindah menyerang Kapten Darmo. Ia kewalahan menghadapi enam orang. Aku datang membantunya, tapi kemudian seseorang muncul dengan topi lebar berbulu dan bersenapan pendek kemudian menembak Kapten Darmo.
Dooor!
"Kapten!"
Kapten Darmon terkapar berlumuran darah. Aku mendekati danmemangku kepalanya. Aku tidak sempat berkata apa-apa. Hanya menyerahkan pedang panjangnya yang penuh darah ke tanganku. Lalu ia menghembuskan napasnya sebelum aku sempat menuntunnya berdoa.