Dari Pojok Sejarah - Renungan Perjalanan Emha Ainun Nadjib by
Emha Ainun Nadjib, Merchandise United, 227 halaman, ISBN-9789791712712
Harga:
Rp 60.000 :: Rp 51.000 ::
Hemat:
Rp 9.000 (15,00%)
Kategori:
Ketersediaan:
stok tersedia di gudang inibuku
Dari Pojok Sejarah Kembali Lagi Ke Pojok Sejarah
Buku ini pernah terbit pada medio 1985 dan naik cetak beberapa kali oleh penerbit Mizan Bandung. Kini ketika hampir seperempat abad berselang dan ketika generasi telah bergeser, rasanya buku ini pas jika dihadirkan kembali. Anak-anak yang beranjak muda pada tahun 2000-an boleh jadi belum pernah bersentuhan dengan buku ini. Padahal, buku yang berisikan catatan perjalanan Cak Nun semasa mengembara di Eropa ini asik untuk dijadikan ladang inspirasi dan partner berpikir dalam memaknai sejarah.
Dari Pojok Sejarah. Itulah judul buku ini. Secara estetik judul ini enak didengar dan memancing imajinasi. Sejarah yang bukan benda keruangan bisa dibayangkan sebagai suatu ruang, ditemukan pojoknya, dan bisa ditempati, dan dari posisi itu seseorang memandang, menikmati, menghayati, dan menggumami apa-apa yang berseliweran di episentrumnya. Ada pergulatan kuasa. Ada kejenakaan ideologi. Ada kekonyolan manusia. Indahnya lagi, si orang yang berada di pojok sejarah itu bisa mengungkapnya dengan bahasa yang cerdas, kadang akrobatik, dan menggoda naluri bahasa kita.
Orang tersebut, yang kini kita kenal dengan panggilan Cak Nun, agaknya sekarang pun masih konsisten berada di pojok sejarah. Publik yang hanya bisa mengenal seseorang lewat media massa, koran atau tivi, barangkali akan sulit bertemu Cak Nun. Memang dulu ketika Orde Baru sedang on the top, pria kelahiran Jombang ini tak diragukan lagi sangat kritis tepat pada saat orang bungkam. Tulisan-tulisannya menyodok, menyoal, dan mempertanyakan ketidakmanusiawian dan ketidakwajaran yang mengitari kita serta yang memenuhi jarak antara rakyat dan negara. Namun, ketika arus Reformasi (ingat orang ini juga punya peran menentukan dalam masa-masa ini) tak terbendung, sejarah berbelok arah. Penguasa berganti, namun kekuasaan seperti tak punya visi.
Cak Nun pun mengambil langkah untuk lebih berkonsentrasi di bawah. Membangun pemahaman di kalangan rakyat, serta lebih meneguhkan kesadaran dan nilai-nilai di antara kawan-kawan yang melingkar bersamanya. Cak Nun seolah kembali ke pojok sejarah. Itulah sebabnya, buku ini dihadirkan secara terbatas, dijual hanya untuk jaringan dan jamaah Cak Nun yang selama ini setia menemaninya mengelola sejarah dari pojok sejarah dan sesekali saja melintas-lintas di pusat-pusatnya. Kebetulan kerap mereka mengusulkan agar buku-buku lama Cak Nun dipublikasikan kembali. Barangkali agar buku-buku itu tidak ketlingsut di pojok laci sejarah yang makin pengap ini.
Dari koordinat semacam itulah, agaknya Cak Nun merawat kesetiaannya pada nilai-nilai yang ia aktualisasikan di tengah-tengah masyarakat. Dari sudut itu pula sepertinya ia mengontribusikan dirinya untuk mencari solusi atas pelbagai masalah, dari soal korban lumpur Sidoarjo hingga pembalakan liar hutan di Ketapang Kalimantan Barat. Dari orang yang sms sambat tidak punya uang buat nebus obat anaknya hingga sambatan-sambatan yang besar-besar. Semua itu dilakukan dari pojok sejarah, agak luput dari kamera media pewarta sejarah. Selamat membaca.